Opini  

3 Hal Nggak Enaknya Tinggal di Provinsi Bengkulu

Avatar Of Tim Redaksi
3 Hal Nggak Enaknya Tinggal Di Provinsi Bengkulu
Bengkulu, Sumber foto: @johnzzen

Penulis: Doris Susama

Satujuang– Sebagai orang yang lahir dan besar di Provinsi Bengkulu, saya harus mengakui bahwa menjadi orang Provinsi Bengkulu terkadang tidak menyenangkan. Terletak di Pulau Sumatera, Bengkulu dengan ketidakunikannya sering kali membuat penduduknya merasa dihadapkan pada stereotip tinggal di lingkungan yang marjinal.

3 Hal Nggak Enaknya Tinggal Di Provinsi Bengkulu

Meski dikenal sebagai salah satu daerah penghasil puspa langka, nyatanya, ada beberapa sisi tidak enak yang mungkin membuat Anda berpikir dua kali untuk memilih Bengkulu sebagai tempat tinggal.

Sebelum saya mengupas nggak enaknya tinggal di Provinsi Bengkulu, mari kita kenali sedikit tentang geografis provinsi ini. Bayangkan saja Provinsi Bengkulu merupakan sebuah kapal yang terletak di Pulau Sumatera, dengan luas mencapai 19.919 kilometer persegi dan memanjang dari sebelah selatan (kepalanya) hingga ke bagian sisi utara (ekornya).

Dengan total pupulasi mencapai 2.086.883 jiwa, menurut saya tinggal di Provinsi Bengkulu menghadirkan ketidakenakannya tersendiri. Apalagi jika harus dibandingkan dengan daerah tetangga seperti Provinsi dengan Kota Palembangnya dan Provinsi dengan Kota Padangnya.

Sering Dikira Berada di atau Sulawesi

Nggak enaknya jadi orang Provinsi Bengkulu adalah tidak dikenal. Yang terjadi adalah Provinsi Bengkulu seringkali dianggap oleh orang Pulau Jawa berada di atau Sulawesi. Pengalaman ini pernah penulis alami sendiri ketika mengikuti seminar online pada masa . Saat sesi perkenalan.

Penulis memperkenalkan diri sebagai orang Provinsi Bengkulu. Namun mayoritas peserta seminar tidak tahu letak Provinsi Bengkulu. Bahkan beberapa mengklaim bahwa Bengkulu merupakan bagian dari atau Sulawesi.

Pengalaman serupa juga terjadi pada teman saya sendiri yang saat itu mengikuti pelatihan fotografi di daerah . Dia menuturkan tidak banyak orang yang tahu Provinsi Bengkulu, bahkan dia harus menjelaskannya berulang-ulang pada orang berbeda.

Pengalaman ini tidak hanya terjadi pada saya dan teman saya yang itu, tapi setelah melalui banyak sharing dengan teman yang lain, mereka pun mengakui memiliki pengalaman serupa.

Baca Juga :  Ketua DPRD Provinsi Bengkulu Pimpin Pengambilan Sumpah Bebas Pungli

Oleh karena itu jika berkenalan dengan orang luar pulau Sumatera, penulis akan lebih senang memperkenalkan diri sebagai orang Palembang, karena nyatanya Palembang lebih dikenal dibanding Bengkulu.

Melalui cara ini penulis tidak perlu bersusah payah menjelaskan dimana Provinsi Bengkulu itu berada. Bukannya penulis tidak bangga dan tidak mau mengakui provinsi sendiri, tapi penulis sendiri merupakan orang yang malas ribet, wkwk.

Setelah melalui perenungan yang penjang dan riset seadanya, penulis berasumsi bahwa ketidakdikenalan Bengkulu oleh masyarakat Indonesia adalah karena Bengkulu tidak memiliki keunikan jika dibandingkan Provinsi tetangga.

Coba mari kita bandingkan Provinsi Bengkulu dengan Provinsi dan . Ketika orang mendengar kota Padang maka orang akan langsung teringat Jam Gadang sebagai ikon Kota yang tidak dimiliki kota lain, selain itu nasi padang yang kelezatannya telah diakui dan diketahui oleh masyarakat skala .

Beralih ketika mendengar nama Kota Palembang, orang akan otomatis teringat dengan Ampera atau makanannya Pempek yang pada tahun 2023 didapuk sebagai salah satu makanan seafood terenak di dunia.

Lalu coba anda dengar kata Provinsi Bengkulu, apa yang akan langsung terbayang oleh anda Tidak ada, ‘kan! Jujur saja saya hanya bisa membayangkan bunga rafflesia atau makanannya tempoyak. Namun nyatanya apa yang telah saya pikirkan tidak banyak dikenal oleh kalangan luas.

Orangnya Terlalu Santai

Tidak perlu kaget jika kamu mengikuti acara di Bengkulu dan acaranya molor dua jam dari yang dijadwalkan. Di tempat lain, jam mungkin dilihat sebagai alat untuk mengukur waktu. Tapi di Bengkulu, jam adalah semacam “petunjuk waktu,” bukan batasan yang kaku. Acara yang dijadwalkan pukul 08.00 bisa saja dimulai jam 09.00, 10.00, atau sesuka hati — yang penting, tetap asyik!

Baca Juga :  Kritik Bima tentang Kondisi Lampung: Sebuah Pembuka Mata untuk Pembangunan

Entah itu acara TK, SMA, Mahasiswa, atau acara yang diadakan sekalipun, maka akan tetap molor. Alasan yang paling sering didengar adalah bahwa yang diundang masih di alias sedang OTW, namun kadang saya yakin bahwa yang diundang sedang bermesraan dengan guling dan enggan melepaskannya.

Perilaku santai masyarakat Bengkulu ini bukanlah hal yang baru terjadi dalam kurun dekade terakhir, namun merupakan kebiasaan turun-temurun yang telah dijaga dan diwarsikan sejak zaman dahulu.

Hal ini dibuktikan dengan filosofi hidup masyarakat Bengkulu yang berbunyi “ Sejerek, Bere Secupak, Madar” yang kalau diartikan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti “ Seikat, Satu Liter, Nyantai.”

Pepatah ini mungkin tampak sederhana, namun kata “madar” pada akhir kalimat memberikan sentuhan yang berbeda. Bagaimana tidak, pepatah tersebut jika dimaknai secarah harfiah yakni dengan punya seikat, beras satu liter, maka bisa nyantai.

Ini oleh beberapa orang dapat diartikan sebagai sikap yang terlalu lembek, dan ini dapat memunculkan asumsi bahwa kehidupan di Bengkulu lebih condong ke arah kemalasan.

Pepatah ini mungkin memuat kearifan lokal yang mendalam, tapi menurut saya lebih ke arah apakah hal itu benar-benar memotivasi untuk hidup lebih baik atau justru menjadi dalih untuk kehidupan yang terlalu santai. Bagaimanapun, pada akhirnya, interpretasi tergantung pada sudut pandang masing-masing individu.

Salah Satu Provinsi dengan Perokok Terbanyak di Indonesia

Dengan ketidakterkenalannya, Bengkulu ternyata memiliki satu catatan unik. Yakni tingkat perokok tertinggi nomor tiga di Indonesia. Menurut BPS pada tahun 2022, Provinsi Bengkulu memiliki 32,16 persen warga yang merokok, yang artinya lebih dari 700.000 penduduk.

Uniknya per 1 September 2023 Bengkulu meraih Indeks Standar Pencemar (ISPU) Terendah di Indonesia, sangat keren sekali, bukan Mungkin seharusnya Bengkulu memiliki tagline baru: “ Segar dengan Aroma Tembakau yang Melayang.” Setiap nafas di sini seolah diiringi oleh balet kecil asap yang menyatu dengan kabut pagi.

Baca Juga :  Congkel Rumah Warga, Pemuda Kaur Ditangkap Polisi

Masyarakat Bengkulu bisa menjadi ahli dalam mengolah pertemuan sosial. Sudah bukan rahasia lagi, ngopi sambil ngudud adalah ritual sakral yang tak terpisahkan di sini, apalagi ngudud setelah makan, beuhhh.

Jika Anda berada di Bengkulu, pastikan untuk selalu memakai helm full face. Ini bukan untuk menghindari laron, tapi sepeda motor yang dikemudikan oleh orang yang juga menyalakan sebatang . Teman penulis pernah tidak bisa membuka mata selama satu minggu karena terkena bunga api pengendara di depannya.

Adapun jika anda berangkat kerja di pagi hari, maka anda harus memperhatikan kebiasaan para siswa SMA di Bengkulu. Di pinggir mereka akan duduk di atas motor dengan dengan sebatang, segelas Power F, dan satu roti seribuan. Sungguh sarapan yang lezat dan bergizi.

Dalam semangat kebersamaan, Bengkulu mungkin harus menyelenggarakan ngerokok sebagai salah satu atraksi festival lokal. Siapa yang bisa membentuk lingkaran asap terbesar Atau mungkin akan ada seniman lokal yang berbakat mengolah bekas puntung menjadi karya seni yang unik. Siapa sangka, asap bisa menjadi sumber inspirasi, wkwk.

Gimana, sekarang udah paham kan kalau tinggal di Bengkulu itu kadang nggak enak Namun walau bagaimanapun, saya tetaplah pemuda Bengkulu yang dengan cintanya menginginkan agar Provinsi ini dapat bersaing dalam hal branding dengan daerah-daerah tetangga.

Penulis adalah Sarjana S1 dan Penyiaran Islam UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Google News Satujuang

Dapatkan update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News