Etika Memelihara Anjing dalam Islam, Antara Hukum Najis dan Kebolehan

Avatar Of Tim Redaksi
Digaji Gede, Berikut Pekerjaan Nyeleneh Dari Asia Hingga Amerika Yang Perlu Kamu Tahu Etika Memelihara Anjing Dalam Islam, Antara Hukum Najis Dan Kebolehan
Anjing berselancar

Satujuang- Anjing sering kali dijadikan hewan peliharaan untuk menjaga keamanan rumah, tetapi bagi umat Muslim, memelihara anjing menimbulkan pertanyaan tentang kebolehannya karena status najis air liurnya.

Alasan ini didasarkan pada hadits yang menyatakan bahwa air liur anjing dianggap najis, yang menuntut orang Islam untuk membersihkan diri ketika terkena jilatan anjing dengan cara tertentu.

Etika Memelihara Anjing Dalam Islam, Antara Hukum Najis Dan Kebolehan

Para ulama dari empat mazhab berbeda pendapat mengenai status najis anjing. Mazhab Asy'Syafi'iyah dan Al-Hanabilah menganggap seluruh tubuh anjing, termasuk air liur dan kotorannya, sebagai najis berat.

Baca Juga :  Membangun Kembali Kebahagiaan, Panduan Praktis Pasca Putus Cinta

Sementara itu, Mazhab Malikiyah berpendapat bahwa hanya air liur anjing yang najis, sedangkan tubuhnya dianggap suci.

Pendapat ini juga sejalan dengan pandangan Hanafi, yang menyatakan bahwa anjing dianggap suci kecuali air liurnya.

Meskipun demikian, ada hadits yang mengizinkan umat Islam untuk memelihara anjing untuk tujuan tertentu seperti menjaga ternak, berburu, atau bercocok tanam.

Baca Juga :  Hari Lebaran Muhammadiyah dan NU Berbeda? ini Penjelasannya

Dalam konteks ini, ulama menarik kesimpulan bahwa memelihara anjing untuk tujuan yang diperbolehkan dapat mendatangkan pahala.

Penting untuk diingat bahwa, terlepas dari status najisnya, berinteraksi dengan anjing harus dilakukan dengan baik dan memperlakukannya dengan layak sesuai anjuran agama.

Allah SWT diharapkan akan menghisab perlakuan manusia terhadap semua hewan, termasuk yang dianggap najis.(Red/detik)