Opini  

Membaca Konflik Palestina-Israel dan Menentukan Solusi Tuntas

Avatar Of Tim Redaksi
Membaca Konflik Palestina-Israel Dan Menentukan Solusi Tuntas
Konflik Palestina-Israel

Penulis: Heni Purwaningsih

Satujuang– Gejolak konflilk Palestina vs masih menjadi pembahasan hangat di berbagai kanal media, mulai dari televisi, surat kabar, dan laman media online.

Membaca Konflik Palestina-Israel Dan Menentukan Solusi Tuntas

Terhitung sudah lebih dari sebulan konflik ini semakin memanas dan belum juga ada tanda-tanda akan adanya gencatan senjata.

Korban jiwa pun tak elakkan dari peperangan ini, hingga saat ini jumlah korban jiwa dari Palestina mencapai lebih dari 11.000 korban, dan ironisnya kebanyakan dari korban jiwa baik yang meninggal dunia ataupun luka parah di dominasi oleh - dan para wanita.

Belum lagi korban yang hilang belum ditemukan karena tertimbun reruntuhan gedung yang di bom oleh tentara . Seperti banyak berita yang disiarkan bahwa masif membombardir di pemukiman sipil wilayah Gaza, mereka meratakan Gaza dengan rudal-rudal mereka.

Bahkan dengan tanpa malu lagi menyerang rumah sakit yang merupakan tempat berlindung paling aman bagi masyarakat. Jelas itu adalh sebuah pelanggaran dalam peperangan.

Tak hanya dari warga Palestina, sendiri korban jiwa banyak yang berjatuhan dan terus bertambah dari pasukan militernya, hal tersebut bisa dilihat dari banyaknya Tank dan lapis baja yang berhasilkan dihancurkan oleh pasukan Hamas, meski data yang dirilis dari juru bicara tak juga ada penambahan.

Farming Media

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, bahwa pada Sabtu, 7 Oktober 2023 lalu pasukan Hamas melancarkan serangan roket yang jumlahnya mencapai ribuan ke arah .

Pasukan Hamas memasuki pagar kawat yang telah berhasil mereka potong. Pagar kawat ini merupakan pagar pembatas antara pemukinam entitas Yahudi dengan penduduk Gaza, yang sengaja dibuat oleh guna memblokade warga Gaza sehingga tidak ada akses dengan dunia luar, wilayah ini juga dikenal dengan penjara terbuka dan terbesar di dunia.

-pun tidak tinggal diam, Perdana Menteri Benyamin Netanyahu langsung mengumumkan status perang dengan Palestina pada waktu itu. Tak mau ketinggalan, Presiden Amerika, Joe Bidden langsung memberikan dukungan sepenuhnya kepada emasnya itu, kuat dan tak tergoyahkan.

Narasi yang dibangun oleh media-media barat mulai dimunculan, memberitakan bahwa Hamas adalah kelompok teroris, Hamas harus bertanggung jawab atas semakin banyaknya korban yang berjatuhan.

berhak membela diri dengan membombardir Gaza sebagai aksi balasan atas serang an Hamas yang tak pernah diduga sebelumnya. Dengan begitu, seakan ingin melegalisasi pembunuhan dan pembantaian massal atas warga sipil Palestina yang tak berdosa.

Banyak pengamat mengatakan, bahwa tindakan yang brutal itu merupakan bentuk genosida dan kejahatan kemanusiaan dalam peperangan. Hal tersebut lebih dari aksi membela diri.

Menolak Lupa

Ketika kita jeli melihat perjalanan pendudukan di Palestina, tentu kita akan mampu mendudukkan persoalan yang sebenarnya, menjernihkan pandangan kemudian mengungkap fakta yang terjadi. Hal tersebut tak bisa lepas dari kita bicara sejarah.

Pada tahun 1902 untuk kali kedua, setelah sebelumnya pada tahun 1897 Theodore Herzl, yang merupakan pendiri gerkan Zionis, mendatangi Sultan Abdul Hamid ll yang pada waktu itu sebagai Khalifah di Turki Ustmani untuk membeli Palestina dan menawarkan sejumlah uang untuk membayar hutang-hutang Turki Ustmani.

Namun langsungditolak mentah-mentah oleh Sang Khalifah, karena itu adalah kaum Muslim yang didalamnya disirami darah para Syuhada.

Baca Juga :  Tiga Catatan Dalam Proses Seleksi Calon Komisioner Bawaslu Provinsi Bengkulu 2022

Bahkan Sang Khalifah dengan kedigdayaanya menyampaikan, selama Kekhilafahan Turki Ustmani masih tegak berdiri selama itu pula Palestina akan tetap menjadi milik kaum Muslim. Jika Kekhilafahan telah runtuh, maka silahkan Yahudi mengambilnya.

Hal tersebut memotifasi orang-orang barat untuk membuat suatu rekayasa, sehingga dimunculkanlah perang dunia, yang kemuadian menjebak Kekhilafhan Turki untuk terlibat, yang semula bersikap netral. Dari sinilah mereka sudah bisa memprediksi pihak mana yang akan memenangkan perang dunia.

Kemudian pada tahun 1916 terjadi satu pernjanjian rahasia antara Diplomat Inggris yakni Mark Sykes dan Diplomat Perancis, Francois George Picot, yang kemudian perjanjian itu kita kenal dengan perjanjian Sykes-Picot.

Perjanjian ini adalah sebagai pecah belah Inggris dan Perancis terhadap wilayah Arab bekas kekuasaan Turki Ustmani.

Dalam perjanjian tersebut, Inggris dan Perancis sepakat untuk membagi  wilayah  untuk tetap bisa memberikan pengaruh di wilayah tersebut. Dari sinilah awal dilahirkannya Nation State yang sengaja dimunculkan negara-negara barat untuk mempermudah intervensi mereka.

Setelah perjanjian Sykes-Picot ditanda tangani, berlanjut pada tahun 1917 Arthur Balfour seorang negarawan dari Inggrismengirim surat kepada Walter Rothschild yang berisi Deklarasi Balfour.

Yang secara singkat isinya adalah dukungan sepenuhnya dari Inggris bagi Yahudi untuk mendirikan kediaman nasional (National Home) di Palestina, dan akan memfasilitasi segala yang dibutuhkan Yahudi guna mencapai upaya terbaik.

Deklarasi Balfour merupakan pernyataan terbuka yang dikelurkan pemerintah Inggris pada tahun 1917 semasa Perang Dunia l, mengumumkan dukungan bagi pembentukan Rumah Nasional bagi kaum Yahudi di Palestina. Deklarasi tersebut disiarkan melalui media masa pada 9 November 1917.

Dengan demikian Deklarasi Balfour dianggap sebagai sebab utama penjajahan Yahudi atas Palestina sampai saat ini. Tak selang berapa lama kemudian, pada 14 Mei 1948 mendeklarasikan kemerdekaannya.

Sempurna sudah pendudukan atas Palestina yang dilegalkan oleh negara-negara di dunia atas mandat LBB, embrio dari PBB saat ini.

Dari sini sudah semakin jelas, bahwa apa yang dilakukan oleh Hamas tidak ada yang salah, itu adalah sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajah yang sudah lama bercokol di tanahnya, setiap tahun semakin memperluas wilayah jajahan.

Adalah suatu hal yang wajar bahkan wajib, sebagai penduduk asli pasti akan berang ketika tanahnya kian hari kian habis dicaplok penjajah yang dilegalkan oleh lemabaga tertinggi dunia.

Apalagi tuduhan bahwa Hamas adalah teroris, harus bertanggung jawab atas banykanya korban jiwa. Ini adalah narasi yang sengaja dibuat oleh guna melemparkan kesalahan pada pihak yang terjajah.

Solusi yang Komperhensif

Untuk sebuah penjajahan tentu solusi yang harus diambil adalah dengan mengusir penjajah dari wilayah yang dijajah, meski dengan berperang sampai titik darah penghabisan, bahkan merupakan kewajiban untuk berperang melawan dan mengusir penajah.

Sangat tidak adil sekali bagi Palestina jika solusi yang diambil adalah perundingan pembukaan hubungan diplomatik, solusi dua negara (two state solution), gencatan senjata, pengosongan wilayah dengan mengungsi, perjanjian damai, karena itu kita mabil sebagai solusi, artinya kita ikut melegalkan penjajahan.

Secara tidak langsung melanggengkan bentuk penjajahan. Kita juga bisa melihat berapa kali menghianati perjanjian yang sduah disepakati

Kita tidak bisa menafikkan, bahwa para korban perang pasti membutuhkan bantuan, sehingga banyak yang berempati dengan mengirim bantuan kemanusiaan, berupa makanan, obata-obatan, peralatan medis dan lain sebagainya.

Baca Juga :  Gubernur Jabar Ini Beri Pernyataan Terkait Penggantinya Mendatang

Namun hal tersebut juga tidak bisa kita jadikan solusi tuntas, itu adalah sebagi bentuk empati kita terhadap korban. Dan seharusnya pelakunya adalah masyarkat grass road bukan sekelas negara.

Faktanya sejak awal penjajahan selalu membombardir warga Palestina, dan tak kurang-kurang pengiriman bantuan kemanusiaan juga selalu dilakukan, namun penjajah tak juga pergi meninggalkan Palestina. Semua pengiriman bantuan kemanusiaanpun selalu dibombardir, ditahan di perbatasan oleh tentara Zionis.

Solusi tuntas untuk penjajahan di Palestina adalah melawan dengan kekuatan militer, yakni jihad fii sabilillah, yang dikomando oleh pemimpin negara. Terlebih lagi negara terdekat di sekitar Palestina, wajib bagi para pemimipin untuk mengirimkan tentaranya guna melawan penjajah .

Namun saat ini, nampaknya pemimpin negeri-negeri Muslim hanya bisa melihat dan mengecam pembantaian yang dilkuka Israel. Mereka sekedar bermanis muka menunjukkan dukungan terhadap Palestina, namun di belakan layar mereka masih menjali hubungan diplomatik dengan Israel.

Nampaknay untuk saat ini mengirimkan bantuan militer ke Palestina adalah sesuatu yang mustahil dilakukan oleh pemimpin negeri-negeri Muslim, lantaran tersekat tembok angkuh Nation State yang sengaja diciptakan ole barat guna memecah belah kekuatan kaum Muslim.

Selain itu, nampak pula ketakutan para pemimpin itu dengan Amerika, lebih suka mempertahankan kepentingan kekuasaannya daripada ikut campur dengan peperangan di Palestina yang itu merupakan permasalh dari suadara sendiri, yakni sesam muslim.

Keberanian pengiriman pasukan perang hanya bisa terlakasana ketika terbentuk satu kekuatan umat Islam yang tegak dalam satu kepemimpinan Islam.

Seluruh umat Islam bersatu menggempur tembok nasionalisme kemudian menciptakan kekuatan baru yang didasari keimanan dan aqidah Islam. Dengan begitu para kafir penjajah itu akan takut dan bertekuk lutut dihadapan kekuatan umat Islam.

Belajar dari Para Pendahulu Pembebas Palestina

Sejarah panjang pembebasan Palestina telah terukir dengan tinta emas yang ditorehkan oleh para pejuang. Mereka mengatur strategi, berjuang dengan kekuatan fisik, yakni jihad fii sabilillah demi mengembalikan Palestina ke pangkuan umat Muslim, meneruskan misi Nabi Muhammad SAW.

Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khatab mengatur strategi peperangan,

Pertama, perang Ajnadin pada tahun 63 M dengan analisa yang matang 32 ribu tentara muslim berhasil mengalahkan 100 ribu tentara Romawi. Ajnadin merupakan yangada di Palestina, peperangan terjadi disini, untuk itu perang ini dikenal dengan perang Ajnadin.

Kedua, perang Yarmuk pada tahun 636 M, dalam peperangan ini 30 ribu tentara muslim berhasil mengalahkan 200 ribu tentara Romawi. Perang ini terjadi di Yarmuk yang sekarang masuk wilayah Yordania.

Ketiga, pembebasan Al Quds (The Jewel of Crown, Permata Indah). Paus Sopranius yang merupakan pemimpin tertinggi umat Nasrani, secara langsung menyerahkan kunci kota Al Quds kepada Umar bin Khatab yang menjabat sebagai Khalifah/pemimipin kaum Muslim pada waktu itu.

Tanpa ragu Paus Sopranius menandatangani kesepakatan dengan jaminan keamanan dan kebebasan beribadah serta tak ada orang Yahudi yang hidup di Yerusalem atau Aelia.

ini menjadi sejarah bahwa penyerahan kota dan perjanjiannya ditandatangani langsung oleh Khalifah, jaminan itu dikenal dengan aL Uhdah Al Umariyah, terjadi pada musim semi bulan April tahun 637 M (Rabi’ul Awal 16 H).

Setelah Jerusalem dikuasai umat Islam, Khalifah Umar bin Khatab menata kembali kota suci ini dan menjadikanya menjadi kota penting bagi umat Islam.

Baca Juga :  Pendidikan Bagi Perempuan di Pedesaan Masih Sangat Rendah dan Timpang, Bagaimana Solusinya?

Selama 462 tahun kedepan wilayah ini erus menjadi daerah kekuasaan Islam denan jaminan keamanan memeluk agama dan perlindungan terhadap kelompok miniritas berdasr pakta yang dibuat Umar ketika menaklukkan kota tersebut.

Pembebasan Al Quds oleh Panglima Shalahuddin Al Ayyubi dari tentara Salib tahun 1187 M.  

Ada banyak hikmah yang bisa dipetik dari strategi pembebasan Al Quds oleh Shalahuddin Al Ayyubi pada tahun 1187 M, yangi bisa diterapkan situasi saat ini.

Pertama, Disunity.

Perpecahan- Tentara Salib bisa mendapatkan pijakan di dunia Muslim karena jurangnya persatuan di antara penguasa Muslim. Perbedaan kecil saja akan menjadi saingan antara sama lain, dan mereka lebih peduli dengan mempermasalahkan perbedaan daripada berurusan dengan ancama Tentara Salib.

Hal ini sama seperti keadaan saat ini dimana kaum Muslim terbagi menjadi negara bangsa dan meributkan perbedaan kecil, sementara Kafir Barat mebggunakan sekat nasionalisme ini untuk perjalanan menuju kepentingan mereka.

Kedua, Removing The Rulers

Mengganti penguasa, Shalahuddin menunjukan kepada kita bagaimana menghadapai perpecahan.Dia berperang dan menyingkirkan semua penguasa yang menolak bersatu untuk merebut kembalai Yerusalem.

Kita menghadapi situasi yang serupa saat ini, dimana kita memiliki penguasa yang bertentangan dengan sentimen umat. Sementara umat sangat ingin sekali bersatu membebaskan Palestina namun penguasa tak punya nyali bergerak dan hanya terjebak pada pemikiranbahwa Israel kuat dan tak terkalahkan.

Dan dengan meletusnya perlawan Hmas ini dunia isa melihat betapa lemahnya Israel.

Ketiga, Agent Rulers

Penguasa Agen, dulu negara-negara tentara Salib mampu mengknsolidasikan penguasa di wilayah tersebut karena penguasa di sekitar Uerusalem memfasilitasi mereka, sehingga posisi Tentara Salib semakin kuat di Yerusalem.

Saat ini entitas Zionis memainkan perannya pada penguasa-penguasa Mesir, Yordana, Suriah. Mereka memiliki kerjasama dan hubungan khusus, tanpa peran dari penguasa-penguasa ini entitas Yahudi tak akan bertahan di Yerusalem.

Shalahuddin menghadapi persoalan yang sama, kemudian dia menaklukan seluruh wilayah Yerusalem dan menyingkirkan penguasa agen dan memotong jalur pasokan yang menopang Tentara Salib.

Kelima, Forward Base

Pangkalan Maju, negara-negara Salib didirikan oleh Gereja Eropa sebagai pangkalan terdepan untuk mendapat wilayah di Yerusalem. Meski banyak terjadi Perang Salib namun Penjajah Kristen Eropa tidak pernah mampu mempertahankan basis depan mereka, paling lama pendudukan adalah 88 tahun berakhir.

Begitupun peran Entitas Zionis di wilayah tersebut, sebagai basis untuk campur tangan di wilayah. Itu kenapa negara-negara Barat selalu cawe-cawe dengan mendanai, mempersenjatai tentara Zionis.

Seperti halnya tentara Salib yang membuat perjnajian dengan negeri-negeri muslim di sekitarnya untuk memperkuat posisi dan menjadi pangkalan depn bagi saudara-saudara kristen mereka di Eropa, entitas Zionis merupakan Kapal Induk Amerika di wilayah tersebut saat ini.

Kesimpulan

Shalahuddin telah menunjukkan kepada kiat bahwa strategi yang dia jalankan adalah dengan penyatuan kembali penguasa Muslim, penghapusan tentara agen dari tengah-tengah kita, dan pemutusan garis pasokan dari pangkalan maju.

Hal tersebut merupakan solusi komperhensif bagaimana kita membebaskan tanah Palestina dari penjajahan Israel. Dan hanya dengan langkah inilah Palestina akan bisa dibebaskan. Wallahu ‘alam bi shawab.

 

Penulis adalah Ibu Rumah Tangga, Aktivis Dakwah, Team Founder Hijrah Remaja

Google News Satujuang

Dapatkan update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News