Studi Ungkap, Humor Ringan Petugas Medis Dapat Percepat Pemulihan Pasien

Avatar Of Tim Redaksi
Studi Ungkap, Humor Ringan Petugas Medis Dapat Percepat Pemulihan Pasien
Pasien rumah sakit

Satujuang- Studi dari Martin Luther University Halle-Wittenberg (MLU) dan Federal Institute for Vocational Education and Training (BIBB) mengungkapkan bahwa humor ringan oleh petugas medis dapat mempercepat pemulihan pasien.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa petugas medis yang menggunakan humor ringan dalam interaksi mereka dengan pasien menerima lebih banyak tanggapan positif.

Studi Ungkap, Humor Ringan Petugas Medis Dapat Percepat Pemulihan Pasien

Julie Raecke dari BIBB menyatakan bahwa dalam praktik kedokteran umum, penggunaan humor ringan oleh dokter membantu membangun hubungan yang lebih kuat dengan pasien, sehingga pasien lebih mudah menerima nasihat .

Baca Juga :  Tips Perawatan Alami dan Aman untuk Memutihkan Gigi di Rumah

Penelitian ini didasarkan pada survei terhadap lebih dari 600 asisten medis di seluruh Jerman, yang dipilih karena peran penting mereka dalam perawatan dan kontak pertama dengan pasien, meskipun menghadapi beban kerja tinggi dan rendah.

Tim peneliti menggunakan kuesioner untuk menilai delapan gaya komedi yang berbeda, termasuk humor ramah, ironi, sarkasme, dan sinisme.

Baca Juga :  Mark Elliot Zuckerberg, Si Muda Yang Kaya Dan Ternama

Hasilnya menunjukkan bahwa asisten medis yang menggunakan humor ringan cenderung lebih bahagia dan percaya diri di tempat kerja.

Sebaliknya, mereka yang sering menggunakan sarkasme atau sinisme merasa kurang puas dan kurang kompeten.

Penelitian yang dipublikasikan dalam BMC Primary Care juga menemukan bahwa jenis humor yang berbeda efektif dalam situasi yang berbeda.

Baca Juga :  Waspada, Ini Ciri-ciri Gadget Anda Telah Diretas Hacker

Asisten medis yang jenaka seringkali lebih percaya diri dan lebih mungkin menduduki posisi kepemimpinan karena humor mereka membantu mengatasi berbagai skenario di tempat kerja.

Namun, penggunaan sarkasme secara berlebihan dapat menyebabkan jarak emosional dari pekerjaan dan penurunan motivasi dalam jangka panjang.(Red/Republika)

Google News Satujuang

Dapatkan update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News