Surat Laporan Ramli SE Tuai Kontroversi

Avatar Of Wared
Surat Laporan Ramli Se Tuai Kontroversi
Wakil Ketua II DPRK Aceh Barat H Kamarudin

Satujuang- Surat laporan yang mengatasnamakan Pimpinan Lembaga DPRK kepada pihak Kepolisian Daerah (Polda) yang dilayangkan oleh Ramli SE menuai sorotan.

Surat tersebut diketahui terkait dugaan yang dilakukan PT Mitra Pelabuhan Mandiri (MPM).

Surat Laporan Ramli Se Tuai Kontroversi

Wakil Ketua II DPRK H Kamarudin menilai Ramli SE menyalahi kode etik lembaga legislatif tentang Kolektif Kolegial yang seharusnya laporan tersebut harus ada kesepakatan terlebih dahulu di pihak legislatif setempat.

Baca Juga :  Kerap Bertemu, Jokowi dan Prabowo Diindikasi Ada Kepentingan

“Apa yang disampaikan seharunya harus dengan kesepakatan dewan melalui Banmus, Rapat Fraksi atau Rapat Pimpinan, ini sama sekali tidak ada rapat,” Jelas H Kamarudin.

Terkait pelaporan, dirinya tidak mempersoalkan, namun apa yang dilakukan oleh Ramli SE seharusnya melalui Fraksi dirinya sendiri di DPRK setempat.

“Apabila tidak kesimpulan silahkan masuk dalam Fraksi jangan bawa nama Lembaga Legislatif setempat.” Tegasnya.

Ia menuturkan, dilembaga DPRK ada yang namanya sistem Kolektif dan Kolegia yang merujuk kepada sistem kepemimpinan yang melibatkan para pihak.

Baca Juga :  Hasil Survei Indikator Politik, Prabowo Subianto Unggul di Kalangan Gen Z dan Milenial

Dalam mengeluarkan keputusan atau kebijakan, mekanisme yang ditempuh melalui musyawarah untuk mencapai mufakat atau pemungutan suara, dengan mengedepankan semangat keberasamaan.

“Seharusnya ini yang harus diikuti, satu untuk semua, semua untuk satu,” tambah Hakam.

Dirinya juga meminta kepada Ketua DPRK untuk segera menyurati Kapolda bahwasannya surat itu bukan atas nama lembaga melainkan pribadi dan kemudian melapor ke Badan Kehormatan Dewan.

Baca Juga :  Pemilihan Pemimpin Masa Depan, Ini Perspektif dari Fengshui

Dengan adanya kejadian seperti ini, Iia khawatir para investor yang ingin berivestasi di Kabupaten jadi takut untuk mejalankan usaha mereka.

“Jangan kejadian seperti ini, membuat para inverstor takut untuk bisa berinvestasi di ,” Demikian H Kamarudin. (Adami)

Google News Satujuang

Dapatkan update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News