Opini  

El Nino

Avatar Of Tim Redaksi
El Nino
Sketsa Adiyanto

Penulis: Adiyanto

Satujuang.com- Akhir-akhir ini, kata ramai disebut. Ia jadi bahan acara gelar wicara di televisi dan diwartakan media massa, baik cetak maupun online.

El Nino

Kita mungkin bisa tidak acuh atau enggak mau tahu mengenai fenomena tersebut.

Namun, satu hal yang pasti, suka atau tidak suka, suhu , khususnya di kawasan Asia, termasuk , tahun ini diprediksi akan terasa lebih panas dari biasanya.

Sementara itu, di belahan dunia lain, seperti di beberapa wilayah Amerika, fenomena itu mungkin akan meningkatkan curah hujan yang tidak biasa, terutama di musim semi nanti.

Jadi, si , diambil dari bahasa Spanyol yang artinya little boy itu, enggak cuma berdampak pada suhu panas dan kekeringan, tetapi juga dapat memicu banjir dan badai.

Masalahnya, seperti yang dikhawatirkan para ahli, dampak perubahan telah memicu fenomena itu menjadi kian ekstrem.

Baca Juga :  Pertanggungjawaban Pidana Dalam Perspektif Pasal 44 Kuhp Kasus Filisida Di Brebes

Sepekan belakangan ini, di beberapa wilayah di , terutama Jakarta, polusi telah meningkat drastis.

Dinas Lingkungan Hidup DKI menyebut sumber polutan berasal dari sektor industri dan .

Ditambah dampak fenomena , bisa dibayangkan bagaimana ‘kerasnya' hidup di Ibu Kota dalam beberapa hari ke depan.

Tentu saja yang paling merasakan dampaknya ialah mereka yang sehari-hari bergulat di jalanan, terutama para pekerja konstruksi ataupun sopir ojek online.

Namun, imbasnya secara luas juga dapat mengganggu perekonomian .

Pekan lalu, kantor berita AFP menurunkan feature menarik bagaimana pedagang kaki lima di Vietnam harus mencari nafkah di tengah yang teramat terik itu, dari penjual hingga pedagang bunga bersepeda.

Baca Juga :  Membuka Diskusi tentang Eksistensi Politikus Muda: Apa yang Mereka Tawarkan?

Selain , hal lain yang mereka keluhkan ialah masih lesunya daya beli masyarakat. Fenomena itu rasanya juga tidak jauh beda dengan di .

Sejumlah ahli mengatakan orang-orang kecil itulah yang terdampak paling parah dari perubahan iklim.

Sebuah studi yang diunggah di Science.org pada 18 Mei lalu, terus-menerus mengurangi pertumbuhan di tiap negara terdampak.

Studi itu menghubungkan hilangnya pendapatan global sebesar US$4,1 triliun dan US$5,7 triliun akibat pada 1982–1983 dan 1997–1998.

Di , ancaman kebakaran , kekeringan berkepanjangan yang dapat menyebabkan gagal panen, kerusakan terumbu karang, serta menyusutnya populasi , kiranya juga perlu dicarikan solusinya.

Belum lagi berbagai dampak penyakit turunannya yang dapat mengganggu produktivitas masyarakat.

Hal itu tentunya perlu diantisipasi dan tidak cukup sebatas imbauan dari lembaga pemantau .

Baca Juga :  Anies, Anak Guru yang Mengubah Guru

Upaya mitigasi yang serius dari daerah, baik pusat maupun daerah, serta instansi terkait ataupun masyarakat, kiranya perlu dilakukan agar dampak ulah ‘si laki-laki kecil' dapat diminimalkan sehingga tidak menimbulkan banyak kerugian.

merupakan gejala alam yang tak terelakkan. Dengan teknologi dan kearifan, manusia hanya bisa memprediksi dan mengurangi dampaknya.

Kita mungkin bisa belajar dari fenomena serupa yang pernah terjadi beberapa tahun lalu, baik di Air maupun di negara lain. Jangan ketika bencana sudah terjadi, baru semua sibuk saling menyalahkan. Itu basi, bung!(mediaindonesia)

 

 

Penulis adalah Media

Google News Satujuang

Dapatkan update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News