Ekbis  

Harga CPO Terpantau Menguat di Sesi Awal Perdagangan

Avatar Of Yusnita
Harga Cpo Terpantau Menguat Di Sesi Awal Perdagangan
Kelapa Sawit

– Harga minyak kelapa (Crude Palm Oil/CPO) di Bursa Exchange terpantau menguat di sesi awal perdagangan Kamis (15/6/23).

Melansir Refinitiv, harga CPO pada sesi awal perdagangan terpantau menguat 0,2% ke posisi MYR 3.459 per ton pada pukul 08:35 WIB.

Dengan ini, harganya sudah nanjak ke level 3.400-an setelah sebelumnya cukup fluktuatif pergerakannya bahkan sempat menyentuh level 3.100 pekan lalu.

Pada perdagangan Rabu (14/6/2023) harga CPO ditutup naik 1,05% ke posisi MYR 3.452 per ton. Ini merupakan posisi tertinggi sejak perdagangan 30 Mei.

Dengan ini, dalam 4 hari perdagangan harga CPO sudah naik 2,52%, secara bulanan harga CPO juga sudah melesat 7,82%, namun masih mengalami koreksi tajam 17,30% secara tahunan.

Pergerakan harga CPO pada perdagangan Juni ini cukup fluktuatif, jika ditutup merah hari berikutnya bisa menghijau. Sentimen yang menyebabkan pergerakan harga seperti itu juga beragam.

Namun, naiknya harga CPO mengikuti reli pada minyak nabati saingan yang didukung oleh kekhawatiran atas kondisi kering.

Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA) diperkirakan akan merilis aturan final tentang mandat volume pencampuran biofuel untuk 2023-2025 pada 21 Juni mendatang.

Hal itu setelah mencari perpanjangan satu minggu pada tenggat waktu aturan tersebut, menurut dokumen pengadilan pada hari Selasa.

“Pengumuman EPA dan kondisi kering di Midwest AS membuat gelisah dan banyak yang lebih suka menutup posisi pendek mereka sebelum kerusakan besar tanaman,” ujar Paramalingam Supramaniam, Direktur broker Pelindung Bestari yang berbasis di Selangor dikutip dari Reuters.

Dari sisi minya singanya, harga Soyoil di Chicago Board of Trade BOcv1 turun 0,25%. Itu naik 2,8% semalam di tengah kekhawatiran atas kondisi tanaman di tengah kering di Midwest AS.

Kontrak soyoil teraktif Dalian DBYcv1 naik 1,7%, sementara kontrak minyak DCPcv1 naik 3,2%.

Minyak kelapa dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak terkait karena mereka bersaing untuk mendapat bagian di minyak nabati global.

Ada juga perlambatan dalam produksi Juni karena kondisi panas dan kering, tambah Paramalingam.

Para pelaku tengah menanti data penting. Surveyor kargo dijadwalkan akan merilis data pengiriman 1-15 Juni dari pada hari ini.

Untuk diketahui, Menurut data Intertek Testing Services dan Amspec Agri yang diterbitkan awal pekan ini ekspor selama 1-10 Juni telah menurun antara 16,7% dan 17,6%.

Sementara itu, Vladimir Putin mengatakan bahwa sedang mempertimbangkan untuk menarik diri dari kesepakatan biji-bijian Laut Hitam.

Karena Barat telah menipu Moskow dengan tidak mengimplementasikan janji untuk membawa barang-barang ke dunia.

Dari dalam negeri, berencana untuk menetapkan harga referensi minyak mentah (CPO) pada US$ 723,45 per metrik ton.

Untuk periode 16-30 Juni, turun dari US$ 811,68 saat ini, kata pejabat kementerian Musdhalifah Machmud pada Rabu (14/6).

Harga rujukan yang direncanakan akan menempatkan ekspor pada US$ 3 per ton dan pungutan ekspor pada US$ 65 per ton, angka ini masing-masing turun dari US$ 33 dan US$ 85 per ton.(CNBC)

Google News Satujuang

Dapatkan update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *